Selasa, 01 November 2011

Makalah Ascariasis

Created By : 3@
ASCARIASIS

PENDAHULUAN
A.  TUJUAN
1.    TIU ( TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM )
Tujuan dari pembuatan makalah ini, Diharapkan agar mahasiswa dapat memahami / mmpelajari tentang apa sesungguhnya Ascariasis itu.
2.    TIK ( TUJUAN INTRUKSIONAL KHUSUS )
Diharapkan agar mahasiswa dapat memahami mengenai :
a.    Pengertian ascariasis
b.    Siklus Hidup dan Morfologi
c.    Patologi dan Gejala Klinik
d.   Diagnosis
e.    Pengobatan
f.     Prognosis
g.    Epidemiologi dan Pencegahan
B.  Alokasi Waktu
Adapun alokasi waktu yang digunakan adalah :
1.      Pendahuluan        : 2 Menit
2.      Pembahasan / Isi  : 10 Menit
3.      Penutup               : 3 Menit

PEMBAHASAN
1.    Ascariasis (Infeksi Ascaris lumbicoides)
Ascaris lumbricoides merupakan nematoda kedua yang paling banyak menginfeksi manusia. Ascaris telah dikenal pada masa Romawi sebagai Lumbricus teres dan mungkin telah menginfeksi manusia selama ribuan tahun. Jenis ini banyak terdapat di daerah yang beriklim panas dan lembab, tetapi juga dapat hidup di daerah beriklim sedang.

2.    Siklus Hidup dan Morfologi
Cacing dewasa bentuknya silindris dengan ujung anterior meruncing. Betina berukuran 20-35cm, sedang pada jantan berukuran 15-31cm. Jenis ini mempunyai tiga buah bibir yang sempurna. Ascaris memiliki beberapa jenis telur. Telur yang dibuahi bentuknya oval melebar, mempunyai lapisan tebal (luar: albuminoid, dalam: hialin) dan benjol-benjol, umumnya berwarna coklat keemasan dengan panjang 75×50m. Telur yang belum dibuahi, umumnya lebih oval dengan panjang 90×50m dengan lapisan lebih tipis daripada telur yang dibuahi. Sering kedua jenis telur ini terdapat dalam satu spesimen tinja. Jika tidak ditemukan telur yang dibuahi maka di dalam usus hanya terdapat cacing betina saja.
Infeksi pada manusia terjadi karena menelan telur matang dari tanah yang terkontaminasi. Telur yang tertelan akan menetas di duodenum, kemudian secara aktif menembus dinding usus dan via sirkulasi portal menuju jantung kanan. Kemudian larvanya masuk ke dalam sirkulasi pulmonal dan tersaring kapiler. Setelah kira-kira 10 hari di paru-paru, larva menempus kapiler dan masuk ke alveoli, melalui bronchi bermigrasi sampai trakea dan faring, lalu tertelan. Cacing akan menjadi matur dan kawin di dalam usus dan memproduksi telur yang akan keluar bersama tinja. Siklus ini membutuhkan waktu 8-12minggu mencapai 27.000.000 telur.
3.    Patologi dan Gejala Klinis
Patogenesis yang disebabkan infeksi Ascaris dihubungkan dengan (1) respon imun hospes, (2) efek migrasi larva, (3) efek mekanik cacing dewasa, dan (4) defisiensi gizi akibat keberadaan cacing dewasa. Ascaris menyebabkan penyakit yang disebut askariasis.
Perjalanan larva melalui hati dan paru-paru biasanya tidak menimbulkan gejala,tetapi dalam jumlah besar dapat menimbulkan gejala pneuminitis. Ketika larva menembus jaringan paru masuk ke alveoli, dapat terjadi kerusakan pada epitel bronkhial. Dengan terjadi reinfeksi dan migrasi dapat menimbulkan obstruksi usus, masuk ke dalam saluran empedu, saluran pankreas, hati, rongga peritonium atau tempat-tempat kecil lain. Larva dalam jumlah sedikitpun dapat menimbulkan reaksi yang hebat. Reaksi jaringan dapat terjadi di sekitar larva dalam hati, paru-paru, disertai infiltrasi eosinofil, makrofag, dan sel epiteloid. Keadaan ini disebut sebagai pnemonitis ascaris yang disertai reaksi alergi seperti dispnea, batuk kering atau batuk produktif, mengi atau bronkhi kasar, demam 39,9-40,0C, dan eosinofilia yang bersifat sementara. Foto torax menunjukkan ilfiltrat yang menghilang dalam tiga minggu. Keadaan ini disebut sindroma Loeffler.
4.    Diagnosis
Cara menegakkan diagnosis penyakit adalah dengan pemeriksaan tinja secara langsung. Adanya telur memastikan diagnosis askariasis. Diagnosis juga dapat dibuat bila cacing dewasa keluar sendiri baik melalui hidung, mulut, maupun tinja.
5.    Pengobatan
Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau masal pada masyarakat. Untuk perorangan dapat diberikan piperasin dosis tunggal untuk dewasa 3-4gram, anak 25mg/kgBB; pirantel pamoat dosis tunggal 10mg/kgBB; mebenzadol 2×100mg/hr selama 3hr atau 500mg dosis tunggal; albenzadol dosis tunggal 400mg.
Pengobatan masal diperlukan beberapa syarat seperti:
 obat mudah diterima masyarakat,
 aturan pemakaian sederhana,
 mempunyai efek samping minim,
 bersifat polivalen, sehingga dapat berkhasiat terhadap beberapa jenis cacing,
 harganya murah.
6.    Prognosis
Pada umumnya askariasis mempunyai prognosis baik. Tanpa pengobatan, infeksi cacing ini dapat sembuh dalam waktu 1,5tahun. Persentase kesembuhan pengobatan 70-99 %.


7.    Epidemiologi dan Pencegahan
Indonesia memiliki prevalensi askariasis tinggi, terutama pada anak. Frekuensinya antara 60-90 %. Kurangnya pemakaian jamban keluarga menimbulkan pencemaran tanah di sekitar halaman rumah, di bawah pohon, tempat mencuci, dan pembuangan sampah. Tanah liat dengan kelembaban tinggi dan suhu berkisar antara 25-30C merupakan keadaan yang baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides menjadi bentuk infektif.
Anjuran mencuci tangan sebelum makan, menggunting kuku secara teratur, dan pemakaian jamban keluarga serta pemeliharaan kesehatan pribadi dan lingkungan merupakan tindakan pencegahan askariasis.

PENUTUP
Adapun penutup pada penutupan makalah ini adalah kita anjurkan atau kita evaluasi kpada seluruh mahasiswa apakah ada yang ingi ditanyakan.

DAFTAR PUSTAKA
www.google.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar