Selasa, 01 November 2011

Makalah Gangguan Perkembangan Psikologi

BAB I
GANGGUAN PERKEMBANGAN PSIKOLOGI

PROLOG
Pada sebagian besar kasus, fungsi yang dipengaruhi termasuk bahasa, keterampilan, visuo-spacial dan/atau koordinasi motorik. Yang khas ialah hendayanya berkurang secara progresif dengan bertambahnya usia anak. Biasanya riwayat penyakitnya ialah suatu kelambatan atau hendaya yang sedini mungkin dapat dideteksi, tanpa didahului masa perkembangan yang normal.
Khas pada gangguan perkembangan terdapat riwayat keluarga dengan gangguan yang sama atau sejenisnya dan ada bukti factor genetic memainkan peranan penting dalam etiologi pada banyak kasus (walaupun bukan semuanya).

A.   Gangguan Perkembangan Khas Berbicara dan Berbahasa
Ini merupakan gangguan pola normal penguasaan bahasa sejak fase awal perkembangan. Kondisi ini tidak secara langsung diakibatkan oleh kelainan neorologis atau kelainan mekanisme berbicara, hendaya sensorik, retardasi mental atau factor lingkungan. Anak mungkin lebih mampu berkomunikasi atau mengerti pada situasi tertentu yang sangat dikenalnya dari pada situasi lain, tetapi kemampuannya berbahasa pada setiap keadaan terganggu.

1.    Gangguan Artikulasi Berbicara Khas
Gangguan perkembangan khas yang ditandai oleh penggunaan suara bicara dari anak berada dibawah tingkat yang sesuai untuk usia mentalnya, sedangkan tingkat kemampuan bahasanya normal. Pada proses perkembangan normal biasa terjadi kesalahan pengungkapan suara bicara, tetapi anak itu dapat dimengerti dengan mudah oleh orang lain
Perkembangan abnormal dapat terjadi jika kemahiran suara bicara terlambat dan/atau menyimpang, menimbulkan: misarticulasi berbahasa anak akibat kesulitan bagi orang lain untuk mengerti anak; penghilangan, distorsi, atau subtitusi dari suara berbicara;dan inkonsistensi dalam mengeluarkan suara.
2.    Gangguan Berbahasa Ekspresif
Mencakup gangguan kemampuan untuk berkomunikasi melalui bahasa verbal dan isyarat. Terjadi gangguan perkembangan khas dengan kemampuan anak dalam mengekspresikan bahasa lisan dibawah rata-rata usia mentalnya namun pengertiann pengertian bahasa dalam batas normal. Anak mengalami kesulitan mempelajari kasulitan kata baru dan berbicara dalam kalimat yang lengkap dan benar serta bicaranya terbatas dengan atau tanpa gangguan artikulasi. Ketidakmampuan dalam bahasa lisan sering disertai dengan kelambatan atau abnormalitas dalam bunyi kata yang dihasilkan.
3.    Gangguan Berbahasa Reseptip
Mencangkup masalah gangguan peerkembangan khas dengan kemampuan anak untuk mengerti bahasa dibawah rata-rata usia mentalnya disertai masalah gangguan berbahasa ekspresif dan kesulitan mengerti (menerima) kata-kata dan kalimat serta menentukan maknanya.
Anak dengan gangguan berbahasa reseptip berat biasanya disertai dengan kelambatan dalam perkembangan social, dapat mengulang kata yang tidak mereka mengerti, dan menunjukkan pola perhatian yang terbatas.
4.    Apasia yang Didapat dengan Epilepsi (Sindrom Landau-Kleffner)
Suatu gangguan yang didahului oleh perkembangan berbasa yang normal, kemudian kehilangan kedua kemampuan berbahasa ekspresip dan reseptip, sedangkan intelegensia umum tetap normal.

B.   Gangguan Perkembangan Belajar Khas
Merupakan suatu gangguan pada pola normal kemampuan penguasaan keterampilan yang terganggu sejak stadium awal dari perkembangan. Bukan semata-mata akibat kurangnya kesempatan belajar ataupun berhubungan dengan cedera otak yang didapat atau penyakit lain. Gangguan belajar didiagnosis saat prestasi anak dalam membaca, berhitung atau ekpresi menulis kurang dari yang diharapkan untuk usia, pendidikan formal dan tingkat inteligensi anak tersebut.
1.    Gangguan membaca khas
Gambaran utama dari gangguan ini ialah hendaya yang khas dan bermakna dalam perkembangan kemampuan membaca yang tidak hanya semata-mata dijelaskan dari usia mental, masalah ketajaman pandangan atau dari tidak adekuatnya pendidikan disekolah. Gangguan perkembangan khas membaca biasanya didahului oleh riwayat ganggaun perkembangan perbicara atau berbahasa.
2.    Gangguan Mengeja Khas
Gambaran utama dari gangguan ini adalah hendaya yang khas dan bermakna dalam perkembangan kemampuan mengeja tanpa riwayat gangguan membaca khas yang bukan disebabkan oleh rendahnya usia mental masalah ketajaman penglihatan atau pendidikan sekolah yang tidak adekuat.
3.    Gangguan Berhitung Khas
Gangguan ini meliputi hendaya yang khas dalam kemampuan berhitung yang tidak dapat diterangkan penyebabnya. Gangguan ini merupakan ketidak mampuan dalam melakukan aritmatika atau penguasaan pada kemampuan dasar berhitung yaitu tambah, kurang, kali, bagi (bukan kemampuan matematik yang lebih abstrak seperti aljabar, trigonometri, geometri, atau kalkulus).

C.   Gangguan Perkembangan Motorik Khas
Gangguan ini ditandai dengan kinerja dalam aktifitas yang memerlukan koordinasi motorik yang lebih jelas, lebih lambat dibandingkan yang diharapkan. Gangguan ini menjadi jelas ketika anak berusaha merangkak atau berjalan atau pada anak yang lebih besar ketika mereka mencoba memakai pakaian sendiri atau memainkan mainannya seperti membangun balok. Gangguan koordinasi perkembangan seringkali disertai gangguan komunikasi.

D.   Gangguan Perkembangan Pervasif
Merupakan kelompok kondisi psikiatri dimana keterampilan social yang  diharapkan perkembangan bahasa dan kejadian perilaku tidak berkembang sesuai atau hilang pada masa anak-anak awal, pada umumnya gangguan mempengaruhi berbagai bidang perkembangan, bermanifestasi pada awal kehidupan dan menyebabkan disfungsi persistem
Gangguan pervasive meliputi:
1.    Gangguan Autistik
2.    Sindrom Reet
3.    Sindrom Asperger
4.    Gangguan Desiintegratif masa kanak-kanak



BAB II
GANGGUAN AUTISTIK

1.    Pengertian
Merupakan gangguan perkembangan pervasive paling dikenali ditandai oleh gangguan berlarut-larut pada interaksi social timbal-balik, penyimpangan komunikasi, dan pola perilaku yang terbatas dan streoritik. Fungsi abnormal pada masalah diatas  diidentifikasi pada usia tidak lebih dari 3 tahun.

2.    Etiologi dan Patogenesis
1.    Factor psikodinamika dan keluarga
2.    Kelainan organic, neurologis, bilogis
3.    Factor genetika
4.    Factor imunologis
5.    Factor perinatal
6.    Temuan Neuro anatomi
7.    Temuan Biokimiawi

3.    Manifestasi Klinik
1.    Sering terdapat stereotipik motorik
2.    Sering menunjukkan perhatian yang khusus terhadap unsur sampingan dari benda (seperti bau dan rasa)
3.    Penilakan terhadap perubahan rutinitas dan lingkungan pribadi
4.    Ketakutan/pobia
5.    Gangguan tidur dan makan
6.    Agresifitas
7.    Mencederai diri sendiri (seperti menggigit tangan)
8.    Kurang spontanitas, inisiatif dan kreatifitas
9.    Gangguan kualitatif pada interaksi social
10. Gangguan komunikasi dan bahasa
11. Ketidakstabilan mood dan afek
12. Hiperkinesis

4.    Perjalanan penyakit dan prognosis
Gangguan autistic memiliki perjalanan penyakit yang panjang dan prognosis yang terbatas. Beberapa anak-anak autistic menderita kehilangan semua atau beberapa bicara yang ada sebelumnya. Sebagai aturan umum, anak-anak autistic dengan IQ diatas 70 dan mereka yang menggunakan bahasa komunikatif pada usia 5-7 tahun memiliki prognosis yang terbaik. Penelitian pada orang dewasa menunjukkan bahwa kira-kira 2/3 orang dewasa aukistik tetap mengalami kecatatan parah dan hidup dalam ketergantungan penuh., baik dengan sanak saudara atau dalam institusi jangka panjang.
Prognosis membaik jika lingkungan atau rumah adalah suportif dan mampu memenuhi kebutuhan anak tersebut yang sangat banyak.
Walaupun ditemukan penurunan gejala pada banyak kasus, mutilasi diri yang parah atau agresifitas dan regresi dapat berkembang pada kasus lain.

5.    Diagnostik
Biasanya tak ada riwayat perkembangan abnormal yang jelas, tetapi jika dijumpai abnormalitas tampak sebelum usia 3 tahun. Selalu dijumpai hendaya kualitatif dalam interaksi sosialnya. criteria diagnostic DSM-IV untuk gangguan autistic diberikan dalam table 38-1 .
Table 38-1
Criteria diagnostic untuk gangguan autistik
A.   Total enam (atau lebih) hal dari 1, 2, 3, dengan sekurangnya dua dari satu dan masing-masing satu dari dua dan tiga:
1.    Gangguan kualitatif dalam interaksi social:
a.    Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku nonverbal multiple. Seperti tatapan mata, ekspresi wajah.
b.    Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sesuai menurut tingkat perkembangan.
c.    Tidak ada keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat atau pencapaian dengan orang lain.
d.    Tidak ada timbale balik social atau emosional.
2.    Gangguan kualitatif dalam komunikasi seperti yang ditunjukkan oleh sekurangnya satu dari berikut:
a.    Keterlambatan dalam atau sama sekali tidak ada, perkembangan bahasa ucapan (tidak disertai oleh usaha untuk berkompensasi melalui cara komunikasi lain seperti gerak-gerik atau mimic).
b.    Pada individu dengan bicara yang adekuat, gangguan jelas dalam kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain.
c.    Pemakaian bahasa atau bahasa idiosinkratik secara stereotipik dan berulang
d.    Tidak adanya berbagai permainan khayalan atau permainan pura-pura social yang spontan yang sesuai menurut tingkat perkembangan.
3.    Pola perilaku, minat, dan aktifitas yang terbatas, berulang, dan streotipik seperti ditunjukkan oleh sekurangnya satu dari berikut”
a.    Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang stereotipik dan terbatas, yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokusnya.
b.    Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap rutinitas atau ritual yang spesifik dan non fungsional.
c.    Manerisme motorik stereotipik dan berulang (misalnya menjentikkan jari atau gerakan kompleks seluruh tubuh)
B.   Keterlambatan atau fungsi abnormal pada sekurangnya satu bidang berikut, dengan onset sebelum usia 3 tahun : 1). Interaksi social, 2). Bahasa yang digunakan dalam komunikasi social, 3). Permainan simbolik atau imajinatif.
C.   Gangguan tidak lebih baik diterangkang oleh gangguan rett atau gangguan desintegratif masa anak-anak.



6.    Terapi
Tujuan terapi adalah menurunkan gejala perilaku dan membantu perkembangan fungsi yang terlambat, rudimenter, atau tidak ada seperti keterampilan bahasa dan merawat diri sendiri. Disamping itu, orang tua yang sering kecewa memerlukan bantuan dan konseling.
Latihan diruang kelas yang terstruktur dalam kombinasi dalam metode perilaku adalah metode terapi yang paling efektif untuk banyak anak autistik. Peningkatan dalam bahasa dan kognisi dan penurunan perilaku maladaptive dicapai dengan program perilaku yang konsisten. Melatih dengan cermat orang tua dalam konsep dan keterampilan modifikasi perilaku dan menghilangkan keprihatinan orang tua dapat memberikan keuntungan yang cukup besar dalam bidang bahasa, kognitif, dan social dari perilaku.
Walaupun tidak ada obat yang ditemukan spesifik untuk gangguan autistik, psikofarmakoterapi adalah tambahan yang berguna bagi program terapi menyeluruh, seperti ;
-       Pemberian haloperidol (haldol); menurunkan gejala perilaku dan mempercepat belajar
-       Obat menurunkan hiperaktifitas, stereotifik, MD, kegelisahan, hubungan objek abnormal, iritabilitas dan afek yang labil.
-       Fenfluramine (pondimi) menurunkan kadar serotonin darah, efektif pada beberapa anak autistic
-       Naltroxone (trexan); suatu antagonis opiate, sekarang sedang diteliti dengan harapan bahwa penghambatan opiot endogen akan menurunkan gejala autistic
-       Lithium (eskalith); dapat dicoba untuk perilaku agresi atau melukai diri sendiri jika medikasi lain gagal.


PENUTUP

A.   Kesimpulan
Gangguan perkembangan psikologik  memiliki gambaran dimana onsetnya berfariasi selama masa bayi atau kanak, hendaya atau kelambatan perkembangan fungsi berhubungan erat dengan kematangan biologis dari susunan saraf pusat dan berlangsung secara terus menerus tanpa remisi dan kekambuhan yang khas bagi banyak gangguan jiwa.
Merupakan gangguan perkembangan pervasive paling dikenali ditandai oleh gangguan berlarut-larut pada interaksi social timbal-balik, penyimpangan komunikasi, dan pola perilaku yang terbatas dan streoritik. Fungsi abnormal pada masalah diatas  diidentifikasi pada usia tidak lebih dari 3 tahun.

B.   Saran
Dalam penanganan anak dengan masalah gangguan perkembangan psikologik khususnya autistic membutuhkan keterampilan / peran khusus dalam perawatannya. Karena anak dengan kondisi autis memilki tingkatan pemahaman yang berbeda dengan anak tanpa gangguan perkembangan. Sehingga perawat merupakan salah satu peran penting dalam menentukan tingkat kesembuhan anak.


DAFTAR PUSTAKA

Kaplan, HI, Sadock BJ. 1997. Sinopsis Psikiatri. Edisi 7. Jilid 2. Jakarta : Bina Rupa Aksara
Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa di Indonesia III. 1993 Cetakan pertama. Jakarta : Departemen Kesehatan
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
Tom, D. 2003. Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. Jakarta : EGC
Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar